Minggu, 23 November 2008

SUSAN


Gue punya kenalan anak UI fakultas Sastra, namanya Susan.Anaknya mungil, kulitnya putih bersih dan mulus, maklum anakketurunan negeri seberang. Sedang gue sendiri kuliah difakultas Kedokteran, UI juga .Suatu waktu, gue jemput Susan dari kuliahnya untuk pulang.Sesampainya di rumah Susan, dia ngajak gue masuk dulu karena
katanya rumahnya kosong sampai besok siang.Gue pun masuk dan duduk di sofa ruang tamunya. Setelah menutuppintu depan, dia masuk kamarnya untuk mandi dan ganti baju.Nggak lama dia datang dengan baju kaos dan rok pendek sambilmembawa dua minuman dan duduk disamping gue. Buset, gue bisamencium harum tubuhnya dengan jelas. Dan terus terangtiba-tiba gue terangsang dan mulai membayangkan keindahantubuh Susan bila tanpa busana. Nggak sadar, gue lama menataptubuh segarnya dan membuat Susan bingung.
"Kenapa sih Ben?" tanyanya.
Gue cepat-cepat sadar dari lamunan erotis gue.
"Nggak..., lo keliatan laen dari biasanya."
"Lain apanya Ben..?" sambil menumpangkan salah satu kakinya ke kakisatunya.
Buset.. itu paha putih banget. Birahi gue pun tambah terangkat.
Pikiran erotis gue mulai bergelora lagi, menghayalkan seandainya
gue bisa meraba-raba kemulusan pahanya."Heh..!"katanya sambil tertawa dan menepuk bahu gue, lalu"Ngeliat apaan hayo, ngeres deh lo!" Gue cuma bisa nyengir aja.
"San, panas ya disini?" sambil gue mengambil saputangandi kantong celana.
"Iya yah, lo udah mulai keringetan begini."Tiba-tiba aja dia ngelap keringet di dahi gue pake tisunya.Dalam keadaan berdekatan kayak gini, gue punya inisiatif untukmemeluk dan menciumnya. Dan bener deh,...kejadian deh...
Susan sudah berada dalam pelukan gue, dan bibirnya sudah dalamlumatan bibir gue. Dia sama sekali tidak berontak dan mulaimemejamkan matanya menikmati percumbuan ini. Tangannyaperlahan berganti posisi menjadi memeluk leher gue. Tangan gueyang tadinya memegang pinggulnya, turun perlahan ke pangkalpahanya dan akhirnya...
Gue berhasil meraba merasakan betapa mulus dan lembutnya paha Susan.
Gue meraba naik turun sambil sedikit meremasnya. Rasanya rada bangga
juga gue mulai bisa menyentuh bagian tubuhnya yang rada sensitif.
Sedang bibir kami masih saling berpagutan mesra dalam keadaan mata
masih terpejam. Lama-lama gue merasa kurang afdol kalau hanya merababagian pahanya saja.Tangan gue mulai naik lagi. Sekarang gue kepingin bangetmenikmati buah dadanya yang padat. Pikiran gue udah melayang jauh.
Pelan tapi pasti gue mengangkat baju kaosnya untuk gue buka.
Dia nggak nolak, dan setelah gue buka bajunya, kelihatanlah buahdadanya yang masih terbungkus rapi oleh BHnya.
Gue lumat lagi bibirnya sebentar sambil gue bawa tangan gue ke belakangtubuhnya. Memeluk, dan akhirnya gue mencari kancing pengaitBHnya untuk gue lepas. Nggak lama terlepaslah BH pembungkusbuah dadanya. Dan mulailah tersembul keindahan buah dadanyayang putih padat dengan puting kecoklatan diatasnya. Buu..ssee..tt..benar-benar merupakan tempat untuk berwisata yang paling indahdengan pemandangan yang menakjubkan di seantero jagat.
Gue bertambah gregetan melihat indahnya buah dada berukuran 34B
yang terawat rapi selama ini.Akhirnya gue mulai meraba dan meremas-remas salah satu buahdadanya dan kembali gue lumat bibir mungilnya. Terdengar nafasSusan mulai tidak teratur. Kadang Susan menghembuskan nafasdari hidungnya cepat hingga terdengar seperti orang sedangmendesah. Susan makin membiarkan gue menikmati tubuhnya.Birahinya sudah hampir tidak tertahankan.Saat gue rebahkan tubuhnya di sofa dan mulut gue siap melumatputing susunya, Susan menolak gue sambil mengatakan,
"Ben, jangan disini aah, dikamar gue aja!" ajaknya dan kemudian bangun,mengambil baju kaos dan BHnya di lantai dan berjalan menujukamar tidurnya. Gue ngikutin dari belakang sambil membuka bajugue sendiri dan melepas kancing celana gue.Begitu pintu ditutup dan dikunci, gue langsung meluk Susanyang sudah topless dan kembali melumat bibir mungilnya danmelanjutkan meraba-raba tubuhnya sambil bersandar di tembokkamarnya. Lama-lama cumbuan gue mulai beralih ke lehernya yangjenjang dan menggelitik belakang telinganya. Susan mulaimendesah pertanda birahinya semakin menjadi-jadi. Sakinggemesnya gue sama tubuh Susan, nggak lama tangan gue turun danmulai meraba dan meremas bongkahan pantatnya yang begitumontoknya. Susan mulai mengerang geli. Terlebih ketika guelebih menurunkan cumbuan gue ke daerah dadanya, dan menujupuncak bukit kembar yang menggelantung di dada Susan.Dalam posisi agak jongkok dan tangan gue memegang pinggulnya,gue mulai menggerogoti puting susu Susan satu persatu yangmembuat Susan kadang menggelinjang geli, dan sesekali melenguhgeli. Gue jilat, gigit, emut dan gue isap puting susu Susan,hingga Susan mulai lemas. Tangannya yang bertumpu pada dindingkamar mulai mengendor.Perlahan tangan gue meraba kedua pahanya lagi dan rabaan mulainaik menuju pangkal pahanya. Dan gue mengaitkan beberapa jarigue di celana dalamnya dan.. srreet!!! Lepas sudah celanadalam Susan. Gue raba pantatnya, begitu mulus dan kenyal,sekenyal buah dadanya. Dan saat rabaan gue yang berikutnyahampir mencapai daerah selangkangannya..., tiba-tiba,
"Ben, di tempat tidur aja yuk..! Gue capek berdiri nih."
Sebelum membalikkan badannya, Susan memelorotkan rok mininya dihadapan gue dan tersenyum manis memandang ke arah gue.
Alamak, senyum itu... Bikin gue kepingin cepat-cepat menggumulinya.
Apalagi Susan tersenyum dalam keadaan bugil alias tanpa busana.
Buu..ssset khayalan gue benar-benar jadi kenyataan cing..!Susan mendekat ke gue sebentar dan tangannya dengan lincahmelepas celana panjang dan celana dalam gue hingga kini bukanhanya dia saja yang bugil di kamarnya. Batang kemaluan gueyang tegang mengeras menandakan bahwa gue sudah siap tempurkapan saja. Tinggal menunggu lampu hijau menyala.
Lalu Susan mengambil tangan gue, menggandeng dan menarik gueke ranjangnya. Sesampainya di pinggir ranjang, Susan berbalikdan mengisyaratkan agar gue tetap berdiri dan kemudian Susanduduk di sisi ranjangnya.
Oh buu..ssseet, Susan mengulum batang kemaluan gue dengan rakusnya.
Gila mak, lalu dia dengan ganasnya pula menggigit halus, menjilat dan
mengisap batang kemaluan gue tanpa ada jeda sedikit pun.
Kepalanya maju mundur mengisapi kemaluan gue hingga terlihat jelas
betapa kempot pipinya.
Gue berusaha mati-matian menahan ejakulasi gue agargue bisa mengimbangi permainannya. Kadang gue meringis nikmatsaat Susan mengeluarkan beberapa jurus pamungkasnya dalammenyepong. Gila bener... uenakya kagak ketulungan cing..!!Ada mungkin 15 menit Susan mengisapi batang kemaluan gue, laludia melepas mulutnya dari batang kamaluan gue dan merebahkantubuhnya telentang diatas ranjang. Gue ngerti banget maksudini cewek. Dia minta gantian gue yang aktif. Segera gue tindihtubuhnya dan mulai berciuman lagi untuk beberapa lamanya, dangue mulai mengalihkan cumbuan ke buah dadanya lagi, kemudiangue turun lagi mencari sesuatu yang baru di daerahselangkangannya. Susan mengerti maksud gue. Dia segeramembuka, mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar membiarkangue membenamkan muka gue di sekitar bibir vaginanya. Keduatangan gue lingkarkan di kedua pahanya dan membuka bibirvaginanya yang sudah memerah dan basah itu.
Oh... buusset, rupanya sewaktu dia mandi sudah bersihkan dan disabuni
dengan baik sehingga bau vaginanya harum. Ditambah menurutpengakuannya, bahwa dia tadi meminum ramuan pengharum vagina.Tanpa ba bi bu lagi, lidah gue julurkan untuk menjilati bibirvaginanya dan buah kelentit yang tegang menonjol.Gila mak, Susan menggelinjang hebat. Tubuhnya bergetar hebat.Desahannya mulai seru. Matanya terpejam merasakan geli dannikmatnya tarian lidah gue di liang sanggamanya. Kadang pulaSusan melenguh, merintih, bahkan berteriak kecil menikmatigelitik lidah gue. Terlebih ketika gue julurkan lidah guelebih dalam masuk ke laing vaginanya sambil menggeser-geser kekelentitnya. Dan bibir gue melumat bibir vaginanya sepertiorang sedang berciuman. Vaginanya mulai berdenyut hebat,hidungnya mulai kembang kempis,dan akhirnya.."Ben.. ohh.. Ben.. udahh.. maaasuukin Ben..!!"
Susan mulai memohon kepada gue untuk segera mengentotinya.
Gue bangun dari daerah selangkangannya dan mulai mengatur posisi diatastubuhnya dan menindihnya sambil memasukkan batang kemaluan guekedalam lorong vaginanya perlahan. Dan akhirnya gue genjotvagina Susan yang masih perawan itu secara perlahan danjantan. Masih sempit, tapi remasan liangnya membuat gue tambahpenasaran dan ketagihan.Akhirnya gue sampai pada posisi paling dalam, lalu perlahangue tarik lagi. Pelan, dan lama kelamaan gue percepat gerakantersebut. Kemudian posisi demi posisi gue coba bareng Susan.Gue sudah nggak sadar berada dimana. Yang gue tahu semuanyasangat indah. Rasanya gue seperti melayang terbang tinggibersama Susan. Yang gue tahu, terakhir kali tubuh gue dantubuh Susan mengejang hebat. Keringat membasahi tubuh gue dantubuhnya. Nafas kami sudah saling memburu. Gue ngerasa adasesuatu yang memuncrat banyak banget dari batang kemaluan guesewaktu barang gue masih di dalam kehangatan liang sanggamaSusan. Habis itu gue nggak tahu apa lagi.Sebelum gue tertidur gue sempet ngelihat jam. Alamak..! duasetengah jam. Waktu gue sadar besoknya, Susan masih tertidurpulas disamping gue, masih tanpa busana dengan tubuh masihseindah sebelum gue bersenggama dengannya. Sambilmemandanginya, dalam hati gue, gue berkata, "Akhirnya gue bisajuga ngelampiasin nafsu yang gue pendam selama ini.Thank's banget "San..., kalo nggak ada lo, gue kagak tau dehkemana gue bawa nafsu gue ini..." Gue kecup keningnya, lalugue segera berpakaian dan siap cabut dari rumah Susan setelahgue lihat jam di mejanya, mengingatkan gue bahwa sebentar lagikeluarganya bakal datang. Gue kagak mau konyol kepergok lagibugil berduaan bareng dia. Apalagi masih ada noda darahperawan di sprei tempat tidurnya. Gue bangunin dia dan berkatabahwa lain kali sebaiknya kita main di villa gue, di Bogor,aja dengan alasan lebih aman dan bebas.

Tidak ada komentar: