Minggu, 23 November 2008

KAKAKKU SAYANG

Segar sehabis mandi, Evi keluar dari kamarnya dan dari teras di depankamarnya di lantai 2, ia melihat adiknya, Nita, memasuki rumah denganwajah merah kepanasan, namun tampak ceria. Nita baru pulang darisekolah, kemeja putih dan rok birunya tampak lusuh. Tak melihat siapapun di rumah, Nita langsung naik dan masuk ke kamarnya lalu menyalakanAC. Ia mencuci muka dan tangannya di kamar mandi dalam kamarnya saatmendengar kakaknya bertanya, “Hey, gimana pengumumannya?”
Nita keluar dari kamar mandi mendapatkan Evi bersandar di pintukamarnya dengan tangan ke belakang.“Nita diterima di SMA Theresia, Kak!” jawab Nita dengan ceria.Evi berjalan ke arahnya dan memberikan sebuah kado terbungkus rapi.“Nih, buat kamu. Kakak yakin kamu diterima, jadi udah nyiapin ini.”“Duuh, thank you, Kak!” Nita setengah menjerit menyambar kado itu.Evi duduk di ranjang Nita sementara adiknya duduk di meja belajarnyamembuka kado itu dan mendapatkan sebuah gelas berbentuk Winnie thePooh, karakter kartun kesukaannya, sedang memeluk tong bertulisan“Hunny”. Kali ini Nita benar-benar menjerit, “Aaah, bagus banget!Thank you, Kak!”
Nita melompat ke ranjang dan memeluk kakaknya erat-erat, dan dengantiba-tiba mencium bibir Evi. Evi tersentak, bukan karena Nitamenciumnya, tapi karena getaran elektrik yang ia rasakan dari bibiradiknya yang basah menyambar bibirnya dan menyebar ke seluruhtubuhnya. Ciuman yang sebenarnya hanya berlangsung beberapa detik itumembuat jantung Evi berdebar. Nita melepas ciumannya, namun takmelepas pelukannya yang erat. Evi tersenyum berusaha menutupiperasaannya, lalu mengecup bibir adiknya dengan lembut. Nitameletakkan gelas itu di meja kecil di sisi ranjangnya dan merebahkandiri. Ia menarik Evi agar berbaring di sisinya, lalu kembalimemeluknya.
“Kak, Nita kangen nih ama Kakak. Sejak Kak Evi pacaran ama Mbak Anna,kapan kita pernah tidur bareng lagi? Cerita-cerita sampe ketiduran?Nggak pernah kan?”“Bukan gitu, Nit,” jawab Evi, “Kakak kan kuliahnya sibuk, bukan karenapacaran ama Anna.”Evi kembali merasakan dadanya berdebar hanya karena dipeluk olehadiknya yang cantik ini. Ia baru menyadari bahwa ia memang sudah lamasekali tak pernah sedekat ini dengan Nita.“Lagian ngapain sih Kakak pacaran ama Mbak Anna? Ntar ketahuan Papabaru tahu lho!” kata Nita sambil mengernyitkan dahinya seakan memarahikakaknya.Wajah Nita begitu dekat dengan wajahnya, membuat Evi merasa canggungdan semakin berdebar. Evi berusaha keras meredam ketegangannya danmenutupi perasaannya dari adiknya.
“Sok tahu kamu,” kata Evi, “Papa kan udah tahu Kakak pacaran ama Anna.Malah sebelum berangkat ke Jerman, Anna pernah ketemu dan ngobrol amaPapa. Sekarang Papa udah bisa kok nerima kenyataan bahwa Kakak emanglesbian.”Hangatnya hembusan napas Nita di lehernya membuat Evi semakin berdebardan ia merasakan panas yang hebat dari selangkangannya. Evi tahu iatak mampu menahan diri lebih lama lagi saat celana dalamnya mulaiterasa lembab.
“Sana mandi dulu kamu!” tukas Evi sambil mendorong adiknya, “Kamu baumatahari!”“Ngg..” balas Nita kolokan walau tetap melepaskan lengannya yangmelingkari pinggang Evi.“Tapi Kakak jangan pergi dulu. Nita masih kangen ama Kakak,” kata Nitasambil berjalan ke kamar mandi.
Evi duduk dan melipat kedua kakinya rapat-rapat di depan dadanya. Iamemeluk kedua kakinya sambil menyadarkan dagu ke lututnya. Ia menghelanapas dalam-dalam berusaha menenangkan gairahnya.“Kenapa aku sampai begitu, sih!” ia memarahi dirinya sendiri dalam hati.“Nita kan adikku sendiri!”“Mungkinkah karena sudah hampir 4 bulan Anna pergi dan aku kangen padapelukan dan sentuhan lembut wanita?” Evi menyelonjorkan kakinya dikasur dan mulai meraba-raba pahanya. Sambil membayangkan dada Annayang montok, tangan kiri Evi meraba-raba dadanya sendiri, sementaratangan kanannya naik meremas-remas selangkangannya.
Evi tersentak dari lamunannya dan melepas kedua tangannya daribagian-bagian vitalnya dan kembali menarik napas dalam-dalam. Ia takingin terlihat bergairah saat adiknya keluar dari kamar mandi nanti.
Tak memakan waktu lama, Nita keluar dari kamar mandi dalam keadaanbugil. Ia mengambil celana dalam dan daster dari lemari. Evi menatapadiknya memakai celana dalam, jantungnya yang belum sepenuhnya kembalinormal langsung berdebar lagi melihat tubuh Nita yang langsing namunberisi itu. Nita tidak mengenakan dasternya, tetapi langsung dudukbersila di sisi kakaknya di ranjang dan meletakkan dasternya dipangkuannya.
Evi tersenyum berusaha menutupi gairahnya dan membelai rambut adiknya.Nita memonyongkan bibirnya seperti orang ngambek dan berkata, “Kak Evikok mau sih ama Mbak Anna? Dia kan..” Nita tampak agak ragu sebelumakhirnya melanjutkan, “Dia kan nggak cantik.” Bukannya marah, senyumEvi malah berubah jadi tawa, “Kamu nggak boleh menilai orang daripenampilan fisiknya. Anna kan baik banget orangnya, lembut dan penuhpengertian. Lagian fisiknya juga nggak jelek-jelek amat. Toket danpantatnya kan gede banget, Nit. Asyik banget untuk diremas. Danciumannya jago banget. Dia yang ngajarin Kakak ciuman.”“Iya sih. Toket Nita nggak gede ya, Kak?” kata Nita sambil memandangpayudaranya.“Siapa bilang?” balas Evi, “Toket kamu gede lagi! Kamu tuh tumbuhmelebihi orang seumurmu. Waktu Kakak 17 tahun, toket Kakak belumsegede kamu.”Dengan polos, Nita bertanya, “Emang enak, Kak, diremas ama sesama cewek?”
Belum sempat Evi menjawab, Nita meraih tangan kakaknya danmeletakkannya di atas dadanya. Evi tersentak, namun membiarkan Nitamenggerakkan tangannya berputar-putar di dada adiknya yang terasalembab dan segar itu. “Mmmhh..” Nita mendesah dan matanya setengahmenutup. Gairah Evi yang sudah sulit dikendalikan semakin meledakmelihat reaksi adiknya yang sangat merangsang itu. Evi mulaimeremas-remas dada adiknya dengan lembut lalu memilin-milin putingdada Nita yang terasa semakin membesar dan mengeras.
“Uhh..” Nita kembali mendesah dan membiarkan Evi meraba dan meremasdadanya, sementara kedua tangannya sendiri meremas sprei kasurnya. Taklagi berusaha mengendalikan gairahnya yang sudah memuncak, Evi meraihdagu adiknya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya terusmeremas dada Nita dengan semakin bernafsu. Evi menarik wajah Nita danmengecup bibirnya yang basah.
“Mmmhh..” reaksi Nita yang hanya berupa desahan itu membakar nafsuEvi. Sambil meremas dada adiknya dengan bergairah, Evi mengulum bibirbawah adiknya yang segera membuat Nita membalas dengan mengulum bibiratas Evi. Kakak beradik ini saling menghisap bibir selama beberapasaat, sampai akhirnya Evi melepas ciuman mereka. Nita membuka matamendapatkan ia dan kakaknya sama-sama terengah-engah setelah berciumandengan penuh gairah.
“Ohh, ternyata enak ya, Kak? Nita nggak nyangka deh. Kak Evi jugaenak?” tanya Nita dengan polos.“Gila kamu, Nit! Dari tadi Kakak udah mau mati nahan gairah Kakakgara-gara kamu peluk, kamu cium, ngelihat kamu telanjang!” jawab Evi,“Kamu sih! Ngapain lagi kamu tarik tangan Kakak ke toket kamu?”
Nita tampak terkejut dengan kerasnya kata-kata kakaknya, “Sorry, Kak.Nita cuma kangen aja ama Kak Evi dan pengen disentuh. Sorry..” katanyasambil menundukkan kepala.“Ssstt..” Evi menarik dagu adiknya lagi hingga mereka salingbertatapan, lalu menampilkan senyumnya yang manis, “Tapi kamu sukakan?” Nita hanya membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya.
Evi menggeser duduknya di ranjang hingga bersandar pada dinding,“Sini,” ia menarik lengan Nita agar duduk di sisinya. Mereka dudukberdampingan, Evi membelai rambut Nita, lalu dengan tangan di belakangkepala adiknya, Evi menarik wajah Nita mendekati wajahnya, “Nih ajaranAnna. Kamu nilai sendiri enak apa nggak.” Evi kembali mencium bibirNita.
Kendali diri sudah sepenuhnya kembali pada dirinya setelah menyadaribahwa Nita juga menikmati semua ini, Evi mengatur alur percintaantanpa tergesa-gesa. Ia tak lagi meraba-raba adiknya. Kini Evi hanyamengulum bibir adiknya, kadang seluruh mulutnya, lalu melepasnya, lalumengulumnya lagi. Kadang ia biarkan Nita yang menghisap bibirnyadengan lebih bernafsu, lalu melepasnya untuk melihat adiknya majumengejar mulutnya yang sedikit ia buka, memancing gairah Nita.
Evi mendorong adiknya hingga rebah di kasur. Mereka berciuman lagidengan penuh gairah. “Kak..” Nita mendesah. Evi menjawab denganmenyelusupkan lidahnya dengan lembut ke dalam mulut Nita yang sedikitterbuka. Tenggorokan Nita tercekat saat merasakan lidahnya bersentuhandengan lidah kakaknya. Ini perasaan yang belum pernah ia rasakansebelum ini. Ia tak menyangka akan merasakan rangsangan luar biasasebagai akibatnya.
Jilatan lembut Evi pada langit-langit dan lidah Nita membuat Nitaterangsang, namun menjadi semakin rileks karena merasa semakin menyatudengan kakaknya. Nita mulai membalas gerakan lidah Evi dengan gerakanlidahnya sendiri. Mengetahui adiknya sudah bisa menikmati ini, Evimembelitkan lidahnya pada lidah Nita sambil menghisap bibir adiknya.Evi melepas lidahnya dari mulut adiknya, lalu berkata, “Hisap lidahKakak, Sayang.”
Kata-kata lembut Evi membuat Nita semakin bergairah, seakan sedangbercinta dengan kekasihnya. Dengan bernafsu, ia menghisap lidah Eviyang kembali menjelajahi mulutnya. Mereka berciuman dan bergantiansaling menghisap lidah untuk waktu yang lama. Merasa gairah adiknyadan gairahnya sendiri semakin membara, Evi mulai meningkatkankecepatan percintaan dengan meraba paha dan selangkangan Nita. Nitamendesah saat merasakan sentuhan di bagian yang belum pernah disentuhsiapa pun itu. Evi melepas bibirnya dari bibir adiknya, lalu mulaimenjilati telinga dan leher Nita. Desahan Nita mulai berubah menjadierangan kenikmatan.
Tanpa melepas tangannya dari selangkangan Nita, Evi menurunkanjilatannya ke dada adiknya yang montok itu. “Ah..!” Nita menjeritkecil saat pertama kali lidah kakaknya menyentuh puting buah dadanya,“Ooohh.. aahh.. Kak..” desahnya dengan penuh kenikmatan. Nita membukamatanya menyaksikan Evi menjilati puting dan payudara Nita dengansemakin cepat dan bernafsu, membuat putingnya membesar dan mengeras.Kadang Evi menggigit puting Nita membuat Nita menjerit kecil danmemaju-mundurkan pantatnya seirama dengan gerak tangan Evi diselangkangannya, sehingga tangan Evi terasa semakin menekan danmeremas di selangkangannya yang kini sudah basah kuyup.
Bangkit dari dada Nita, Evi menduduki adiknya dengan selangkangantepat di atas selangkangan adiknya. Evi menarik kaosnya lalumelemparkannya ke lantai. Kedua tangan Nita meremas dada kakaknya saatEvi sedang berusaha melepas BH-nya. Evi melempar BH-nya dan Nitasemakin bernafsu meremas dada dan puting telanjang kakaknya. Merekasaling menghujam selangkangan hingga saling menekan. “Hhh..” desah Eviyang menikmati remasan adiknya pada dadanya yang telah membesar danmengeras itu. Tak tahan lagi untuk segera merasakan adiknya, Evibangkit membuka celana pendek sekaligus celana dalamnya, lalu menarikcelana dalam Nita hingga terlepas, menampilkan setumpuk kecil bulutipis yang menutupi kemaluan yang telah membengkak penuh gairah. Bauseks menyebar dari vagina Nita, membuat isi kepala Evi serasa berputarpenuh gairah tak tertahankan.
Evi meraba bibir vagina adiknya yang telah berlumuran lendir gairah.“Ohh, Kakaak!” Nita tersentak merasakan nikmatnya sentuhan di titikterlarang itu. Tak tahan lagi, Evi segera menjilati bibir vagina Nitadengan bernafsu, menikmati manisnya lendir vagina Nita. “Ah! Ah! Kak!Ah!” Nita menjerit-jerit tak tertahankan, tubuhnya menggelinjangmerasakan kenikmatan yang tak pernah terbayangkan olehnya.
Dua jari Evi membuka bibir vagina Nita, menampilkan klitoris yangtelah membengkak keras dan teracung keluar. Lidah Evi menari padaklitoris adiknya sambil tangan kirinya naik meremas-remas payudaraNita, membuat Nita terpaksa mencengkeram sprei untuk menahan gelinjangtubuhnya yang semakin sulit dikendalikan. Ini tak membantu menahanjeritannya yang semakin keras “Aaagghh! Aaagghh! ohh, Kakaak! Nikmat,Kaak! Jangan berhen.. aagghh!” Nita telah terlontar ke dalam dunianyasendiri.
Memang tak berniat berhenti, lidah Evi masuk ke dalam vagina Nita danmenjilatinya tanpa ampun. Nita meluruskan kedua lengannya di sisimenopang tubuhnya ke posisi duduk mengangkang, menyaksikan kepalakakaknya di antara kedua pahanya. Tak mampu mengendalikan kenikmatanseks yang terus meningkat ini, Nita menghunjamkan selangkangannya kewajah kakaknya berulang kali, sementara lidah Evi semakin cepatbergetar di dalam vagina Nita, sambil menikmati lendir vagina adiknyayang terus mengalir ke dalam mulutnya.
Hunjaman selangkangan dan gelinjang tubuh Nita yang semakin kasar dantak terkendali membuat Evi tahu bahwa adiknya tak akan tahan lebihlama lagi. Ia semakin bernafsu menjilati adiknya, di dalam vagina,bibir vagina serta klitorisnya. Tepat dugaannya, tak lama kemudiankedua paha Nita menghentak kaku menjepit kepala Evi, tubuh Nitabergelinjang semakin kasar dan liar, sementara vaginanya berkontraksidan memuncratkan gelombang demi gelombang lendir seks yang tak mampulagi ia bendung.
“Aaakk.. aahh.. ahh Kakk..” jerit Nita tak peduli lagi pada dunia,hanya kenikmatan orgasme pertamanya ini yang berarti baginya. Evimembuka mulutnya, mengulum seluruh vagina adiknya dan menenggak lendirorgasme yang membanjiri seisi mulutnya hingga sebagian menetes daribibirnya ke dagu dan lehernya.
Orgasme demi orgasme melanda Nita selama semenit penuh, hinggaakhirnya ia merasa begitu lemah sampai tubuhnya jatuh ke kasur denganpenuh kenikmatan dan kepuasan. Evi menjilati lendir yang lolos ke sisiselangkangan dan paha adiknya, lalu memanjat tubuh adiknya danmenindih tubuh adiknya. Sambil terengah-engah, ia menyaksikan Nitayang memejamkan mata penuh kepuasan. Evi mengecup bibir Nita, membuatNita membuka matanya dan tersenyum. Ia memeluk tubuh telanjang Evi,lalu membalas kecupan kakaknya dengan ciuman penuh pada mulut Evi.Lidah mereka terpaut, Nita menghisap lidah kakaknya, lalumelepaskannya untuk menjilati wajah, pipi dan leher Evi yangberlumuran lendir orgasmenya sendiri. Lendir seks ini terasa nikmatdan manis baginya.
Nita tahu Evi terengah-engah bukan hanya karena habis memakanvaginanya dengan brutal, namun juga karena gairahnya yang telahmemuncak. Nita melorotkan diri di bawah tubuh kakaknya, menggesekkanpayudaranya pada payudara Evi. Wajah Nita tiba di depan payudara Evisaat Evi mengangkat tubuhnya dengan menopangkan dirinya pada sikunya.Tanpa ragu Nita mulai menjilati puting payudara kakaknya hingga napasEvi semakin tersenggal-senggal menahan gairah yang semakin melonjakdalam dirinya. Selangkangannya semakin memanas dan lendir seksnyameleleh keluar dari vaginanya, menetes-netes di paha Nita.
“Ohh, Sayang! Kakak nggak tahan lagi, Sayang!” erang Evi.Memahami maksud kakaknya, Nita melorotkan tubuhnya kembali hinggawajahnya tiba di depan vagina Evi, dan tanpa menunda lagi, Nitalangsung menyusupkan lidahnya ke dalam vagina kakaknya.“Aaahh! Ahh! Sayaang!” Evi menjerit selagi Nita sibuk menjilativaginanya dari dalam hingga ke klitorisnya berulang-ulang.
Dengan bernafsu, Evi menduduki wajah adiknya, lalu menaik-turunkantubuhnya, menghujamkan vaginanya ke wajah adiknya berulang-ulang.Sambil meremas pantat Evi, Nita meluruskan lidahnya hingga kaku danmenghujam wajahnya seirama dengan gerakan pantat kakaknya ini. Lendirgairah meleleh ke wajah dan pipi Nita saat ia memaikan kakaknya denganlidahnya. Tak lama Evi mampu bertahan setelah gelombang rangsanganbertubi-tubi yang telah ia nikmati, puncak kenikmatan pun meledak danEvi tersentak kaku di atas wajah adiknya dalam kepuasan orgasme demiorgasme yang menyemprotkan lendir panas ke dalam mulut Nita berulangkali.
Nita berusaha keras menghisap dan menelan seluruh lendir orgasme Eviyang memenuhi mulutnya. Begitu banyaknya lendir kepuasan yang Evitumpahkan ke mulut adiknya, sebagian terpaksa mengalir keluar ke pipiNita. Dari kaku, perlahan-lahan tubuh Evi mulai melemas dan jepitanpahanya pada kepala Nita pun mulai mengendur, hingga akhirnya Evijatuh terbaring lemas di atas ranjang. Nita mendekati wajah kakaknyayang menantinya dengan tersenyum, lalu mencium bibir kakaknya. Merekaberpelukan dan berciuman beberapa saat. Evi membelai rambut adiknya,sementara Nita meremas pantat kakaknya. Lelah berciuman, Evi menghelanapas panjang sebelum akhirnya mengatakan, “Aku cinta kamu, Sayang..”Nita hanya tersenyum dan mereka terus berpelukan hingga tertidur dalamrasa lelah yang penuh dengan kepuasan.

Tidak ada komentar: